Menengok Para Aulia di Negeri Seribu Menara

Diposting oleh pondok pesantren an-nasyath | 07.37 | | 0 komentar »


Hiruk pikuk keseharian suasana Mesir yang keras, udara yang berselimut debu, dan bangunan bangunan kuno, ternyata di balik itu semua terdapat peradaban Ulama Ulama bersar yang bercokol, yang perlu kita ketahui, dan kita kunjungi. Tentunya untuk bertadabur, dan mengenang kisah perjalanannya.

Sungguh menyenangkan, jalan jalan mengelilingi kota Cario Mesir maupun sekitarnya, yang terkenal akan sejarahnya, peradaban kuno, maupun arsitektur masjid yang megah. Juga karena lokasi yang mendukung, apa lagi ketika waktu malam tiba, artistik lampu menambah hangatnya suasana dinginya malam.
Waktu itu jalan jalan tertuju pada makam makam Aulia, napak tilas dengan Beliau beliau. Ketika perjalan menuyusuri daerah daerah di wilayah Mesir, ngeteng bersama teman teman mahasiswa menengok para Aulia. Alhamdulillah, karena saya dan teman teman, baru saja menyelesaikan ujian term terahir, semoga kita di beri kenajahan, amiin. Menurutku momen yang sangat tepat, karena bertepatan sehabis ujian, rekreasi sekaligus napak tilas. Selain silaturahim ke makam makam Aulia, juga mendapatkan kepuasan sepiritual juga perjalanan yang begitu mengasikkan, dan memuaskan.


Waktu itu tanggal 18 juli 2011, momen yang tepat yaitu sehabis ujian. Sebelum hari H berangkat, teman teman punya inisiatif untuk ngeteng mengunjungi makam makam para Aulia, kemduaian satu demi satu dari teman di hubungi, mengajak untuk ikut serta. Begitu mendadak memang, tapi alhamdulillah semua pada antusias, dan ahirnya terkumpul sekitar 15 orang. Tepat hari rabu malam kamis tanggal 18 juli, kita berangkat ke tujuan pertama yaitu, daerah Tanta dimana Syaikh Badawi di makamkan. Dari terminal Asyir Madinat Nasr, dimana mayoritas mahiswa Indonesia tinggal, kemudian menuju terminal ramsis, dari ramsis menuju Tanta yang memerlukan sekitar 2 jam waktu tempuh dengan tramco, nama angkutan umum di kawasan Mesir. Begitu sampai, waktu sudah tengah malam, karena waktu sudah larut, tidak mungkin rasanya untuk langsung ziarah. Oleh karena itu kita menyambangi kawan yang kuliah di Universitas Al-Azhar di bagian Tanta, yang itu memang sudah di rencanakan untuk mengurangi pengeluaran, ya namanya juga ngeteng, sebisa bisa mungkin untuk ngirit pengeluaran uang. Sampailah di rumah teman, saling sapa salam, kemudian istirahat. Pagi menjelang, sarapan kemudian berangkat ke makam Imam Ahmad Badawi. Perjalanan cukup di tempuh sekitar 20 menit dri rumah teman, Subhanallah ternyata masjidnya juga besar dan megah walaupun terletak bsersebelahan dengan pasar namun artistic masjid tidak terelakkan, sesegera mungkin kita untuk masuk dan berziarah, tidak lupa untuk mengabadikan, berfoto foto di setiap lokasi perlu untuk di abadikan. Beliau lahir 596 H yang kemudian terkenal karena pemberani, dermawan, kebijakan dan kemurahan hatinya. Dan orang orang sezamannya menyebutnya sebagai Bahr al-ulm yang berarti lautan ilmu, sebagai guru besar sufisme islam dan pendiri Toriqoh Ahmadiyah. Suasana makam yang begitu ramai, orang orang yang berziarah atau sekedar ingin menunaikan shalat di masjid itu.


[ READ MORE ]

Pendidikan Kitab Kuning di Pesantren

Diposting oleh pondok pesantren an-nasyath | 17.26 | | 0 komentar »


Mukadimah
Pada umumnya, pondok pesantren (seterusnya disebut pesantren) dipandang sebagai sebuah sub-kultur yang mengembangkan pola kehidupan yang unik menurut kaca mata umum. Di tengah perkembangan dunia yang semakin intensif dan ekstensif adalah suatu fenomena yang menarik jika terdapat kenyataan adanya lembaga pendidikan yang konsisten mengembangkan tradisi akademik dan intelektualisme tradisional secara otonom. Suatu fenomena yang menarik pula apabila di tengah skeptisisme atau bahkan sinisme banyak kalangan terhadap adabtabilitas pesantren (lagging behind the time), ia justru menunjukkan dinamika yang luar biasa. Kredo pesantren yang diulang-ulang dan dipegang teguh, al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah seakan menjadi jurus ampuh yang membentuk pesantren menjadi sosok yang terlihat modern akan tetapi sekaligus otentik pada tataran ontologi, espitemologi maupun aksiologi pemikiran.
Rahardjo (dalam Sulaiman, 2010: 5) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa sejak awal pertumbuhannya, pesantren memiliki bentuk yang beragam sehingga tidak ada suatu standarisasi khusus yang berlaku bagi pesantren. Namun dalam perkembangannya tampak adanya pola umum sehingga pesantren bisa saja dikelompokkan ke dalam dua tipe yaitu pesantren modern (khalafiyyah) dan pesantren tradisional (salafiyyah). Keduanya mempunyai ciri-ciri utama yang berbeda di samping juga menyimpan salah satu ciri utama yang sama yaitu masih diselenggarakannya pendidikan kitab kuning meski dengan frekwensi dan tingkat keseriusan yang berbeda antara keduanya.


[ READ MORE ]